Rabu, 04 Februari 2009


DPP PNI Marhaenisme
Mengutuk Anarkis di DPRD Sumatera Utara


JAKARTA - PNI Marhaenisme mengutuk aksi massa di gedung DPRD Sumatera Utara pada Selasa (3/2-09) lalu. Aksi massa yang tidak beradab itu membuat Ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat meninggal dunia.
   Para pengunjuk rasa sambil mengusung peti mati masuk ke dalam ruang sidang paripurna DPRD Sumut. Para pendemo kemudian menguasai ruang sidang. Para pendemo membuat kegaduhan agar tuntutan mereka yakni dibentuknya Propinsi Tapanuli bisa disetujui. Akhirnya rapat paripurna dihentikan.
   “PNI Marhaenisme mengutuk tindakan anarkis yang dilakukan para pendemo di DPRD Sumatera Utara yang meminta pemekaran Propinisi Tapanuli. Tindakan itu tidak moral. Jelas tidak sesuai dengan Pancasila,” kata Ketua Organisasi DPP PNI Marhaenisme Ir. Rinto Handoyo.
  Aksi massa, anarkis dan terorisme adalah satu paket kegiatan yang berkorelasi terhadap system tugas keamanan aparat yang berkopenten.Batas batas area aktifitas tersebut sangat sumir, maka cara penanganan terhadap hal tersebut oleh aparat harus dalam batas siap dan terukur dengan backup data yang dalam dan akurat.
   Menurut Rinto, demontrasi adalah salah satu indikasi hidupnya roh demokrasi. Tapi aksinya tidak harus anarkis. Tindakan yang tak bermoral itu mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara. Untuk itu kata Rinto, pihak berwenang harus bertanggung jawab dan menindak tegas siapa saja yang terlibat dan yang mendalagi aksi anarkis tersebut.
Beberapa waktu lalu Polri melakukan pelatihan penanggulangan demontrasi, pelatihan penanggulangan terorisme dan pelatihan pelatihan lain serupa, tapi hasilnya tidak memuskan. Padahal katanya Rinto, Polri dalam pelatihan telah banyak menghabiskan anggaran negara.
  “Yang nota bene adalah uang rakyat, lalu bagai mana akuntabilitas institusi yang menggunakan uang negara? disini DPP PNI Marhaenisme meminta Kapolri, serta jajarannya harus bertanggung jawab pada kejadian ini. Kalau mau jujur sebagai tanggung jawabnya seyogyanya Kapolda Sumatra Utara harus legowo untuk mengundurkan diri dari jabatannya. PNI Marhaenisme, terang Rinto meyakinkan. (amerisuto)

Teks Foto: Ketua Organisasi DPP PNI Marhaenisme Ir. Rinto Handoyo



Kamis, 22 Januari 2009

PNI Marhaenisme
Kecam  Sinetron Tak Mendidik

   
   JAKARTA- PNI Marhaenisme mengkritik tayangan sinetron TV yang kian hari tidak mermutu dan tidak mendidik. Menurut PNI Marhaenisme semua tayangan sinetron yang ditayangan saat ini hanya mengangkat kisah percintaan. Tujuan ditayangkannya sinetron percintaan itu lebih kepada mengajar rating. Kenyataan itu mengakibatnya sinetron tayangan TV miskin dengan keragaaman tema yang akhirnya menumpulkan kreatifitas para praktisinya.
       “Tayangan sinetron TV sudah keterlaluan. Semua bercerita tentang cinta remaja. Parahnya cinta yang diproduksi semuanya cinta dengan lawan jenis. Laki dan perempuan. Bukankah cinta itu universal?” kata Ketua Departmen Kebudayaan dan Parawisata DPP PNI Marhaenisme Ahmad Merizal Sutomo.
Menurut Ahmad Merizal Sutomo cinta itu luas. Tidak hanya kepada lawan jenis yang mengakibatkan generasi muda terlena dengan urusan cinta. Cinta tanah air, cinta kepada ibu, cinta pada kampung halaman, cinta pada teman, cinta kepada pahlawan menjadi tontonan asing dalam sinetron di negeri ini. Saat ini, telah ada 11 stasiun televisi yang bersiaran secara nasional. Siaran ini dapat ditangkap oleh sekitar 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi di Indonesia. Bila satu rumah tangga beranggotakan 5 orang, artinya penonton TV di Indonesia mencapai kurang lebih 200 juta jiwa
“Saya prihatin dengan kondisi sinetron di negeri ini. Hendaknya pihak yang terkait mau memperhatikan masalah ini. Para produser dan pihak pengelola TV jangan hanya mengejar rating. Ayo melekkan anak-anak muda dengan memilih tema yang cerdas,” kata Ahmad Merizal Sutomo dengan lantang.
   Menurutnya lagi, sinetron itu cukup berbahaya. Sebab dicekokin setiap harinya dengan urusan cinta asmara. Mengakibatkan generasi muda hanya peduli dengan dirinya sendiri. Selain itu dampak dari tayangan sianetron tersebut mengakibatkan generasi muda menjadi individu yang mau enaknya saja. Hanya menjadi generasi pengekor dan kosumeris. Tidak menjadi pemuda pelopor.
   “Lihat saja tayanganya lebih menjual konflik air mata dan derita dari cinta itu sendiri. Jarang sekali kita lihat tayangan sinetron yang memberikan semangat hidup. Jangan mimpi ada semangat nasionalisme dalam sinetron kita dewasa ini. Sinetron Cinta Fitri, Larasti, Alisa, Cucu Manantu, Lia dan lain-lainnya semua senafas, yakni rohnya hanya soal amor. Memalukan sekali. Apa praktisi sinetron hanya mampu membikin cinta amor? Begitu miskinkah kreatifitas para sineas negeri ini?” Kata Merizal dengan lantang.
    Menurut Ahmad Merizal Sutomo negeri ini kaya dengan keragamaman tema, tapi dimsikinkan oleh industri TV yang berdalih mengikuti selera pasar. Menurutnya lagi, tidak pernah pasar seleranya sendiri. Tapi pihak TV yang membentuk pasar itu sendiri.
“Apakah pernah masyarakat dilibatkan? Tidak kan! Para pembuat sinetron itu sendiri yang membentuk pasar. Untuk itu saya minta pihak pengelola TV menghentikan tayangan sinetron percintaan murahan. Masak, anak SMP sudah ajarkan soal pacaran?” terang Ahmad Merizal Sutomo.
     Untuk itu kata Ahmad Merizal Sutomo meminta kepada masyarakat untuk cerdas dalam memilih tayangan. Jangan hanya mau dicekokin tayangan cinta buta. Meminta kepada pihak TV lebih selektif lagi dalam memilih tema sinetron jangan hanya mengejar rating untuk mengejar nilai komersial tapi tanpa memperdulikan masukan dari masyarakat. Selama ini katanya lagi, masyarakat hanya menjadi objek, tanpa pernah masyarakat yang jamak dan multi kultur ini diminta masukannya.
    Ahmad Merizal Sutomo cukup prihatin dengan kondisi persinetronan dewasa ini. Untuk itu ia meminta kepada semua elemen masyarakat untuk mengkitisi tayangan sinetron dan TV yang tak bermutu. Bila iklan prodak tidak dibeli masyarakat, dengan sendirinya para pengiklan dan pihak pengelola TV pun akan bekerja keras untuk membikin tayangan sianetron yang bermutu.
    “Kalau pihak pengelola TV tidak mau merubah konsep tayangan sinetron lebih baik tak usah menonton tayangan sinetron. Bila perlu masyarakat tidak membeli prodak yang iklannya itu membiayai sinetron picisan. Pihak orang tua pun jangan biarkan anaknya menonton sinetron percintaan yang tak ada faedahnya untuk kecerdasaan anak,” himbaunya. (****)



Selasa, 20 Januari 2009



Caleg PNI Marhaenisme DKI Jakarta
Optimis Memperoleh Suara Sugnifikan


   Para Calon Legislatif (Caleg) PNI Marhaenisme Dapil DKI Jakarta melakukan rapat kerja. Rapat kerja Caleg DKI PNI Marhaenisme dipimpin oleh Korwil Drs. Paiman Raharjo, SE, MM, M.Si dan didampingi oleh Ketua DPD PNI Marhaenisme DKI Jakarta Ketua: Abdul Aziz itu dikuti lebih dari 40 para Caleg yang terdiri dari DPRD dan DPR RI.
    Acara digelar di secretariat DPD PNI Marhaenisme Jl. Pulao nangka No. 1 RT07/08 Kec. Pulo Gadung, Kel. Pulo Gadung, Jakarta Timur, Minggu (18/1) kemarin. Menurut Drs. Paiman Raharjo, SE, MM, M.Si acara Rapat Caleg DKI tersebut untuk menyukseskan para caleg PNI Marhaenisme dalam Pemilu 2009.
    “Berkumpulnya para Caleg DKI Jakarta untuk menyukseskan para Caleg agar bisa duduk menjadi anggota dewan. Sebagai Korwil, saya optimis PNI Marhaenisme akan memperoleh suara yang signifikan,” kata Paiman meyakinkan.
Senada dengan Paiman Ketua DPD PNI Marhaenisme DKI Jakarta Abdul Aziz juga menyampaikan rasa optimisnya. Alasannya, PNI Marhaenisme satu-satunya partai yang konsisten dengan Marhaenisme ajaran Bung Karno.
    “PNI indentik dengan Marhaenisme. Artinya, PNI Marhaenimse yang konsisten membela kaum Marhaen, kaum yang tertindas oleh ganasnya kapitalisme. Juga kaum yang terpinggirkan dan wong cilik,” kata Abdul Aziz berapiapi. (gardo)

Teks: Para Caleg melakukan rapat pemenangan Pemilu (gardo)



Senin, 19 Januari 2009


PNI MARHAENISME DUKUNG
SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X JADI CAPRES
   DPP Partai Nasional Indonesia (PNI – Marhaenise) mendukung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Capres. Hal itu dibuktikan dengan bertemunya kedua pimpinan tersebut di kediaman pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono X di Jalan Suwiryo No 37, Menteng, Jakarta Pusat. Sukmawati mewakili partainya, menyatakan mendukung Sultan menjadi calon presiden.Sukma menyatakan, setelah menjaring aspirasi masyarakat, PNI Marhenisme melihat Sultan sebagai figur yang paling pas.
   Bagaimana jawaban penguasa Yogyakarta itu?"Saya siap-siap saja," kata Sultan usai pertemuan yang berlangsung satu jam lebih itu, Selasa, 13 Januari 2009. "Cuma Perlu ada pertemuan berikutnya, agar tidak beli kucing dalam karung," kata Sultan. Namun Sultan belum menjelaskan lebih rinci soal pertemuan berikutnya itu.
   “Pokoknya PNI Marhaenisme sudah bulat mendung Sultan. Dia layak menjadi pemimpinan nasional. Aspirasi dari DPD Se-Indonesia menyataakan Sultan menjadi Capres,” kata Ketua Organisasi DPP PNI Marhaenisme Ir.
Rinto Handoyo.
   Menurut Rinto, tekad PNI Marhaenisme sudah bulat untuk mendukung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Capres pada Pemilu 2009 ini. “Dalam waktu dekat PNI akan menggelar Rapimpans untuk mendukung Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Capres,” terang Rinto meyakinkan (gardo)




Senin, 27 Oktober 2008


SUKMAWATI SUKARNO
PUTRI BUNG KARNO YANG TERANIAYA

Oleh. * Ir. Rinto Handoyo

     SIMPANG siur berita masmedia, telah membingungkan masyarakat mengenai kekurangan persyaratan para calon anggota legislativif, yang diduga Palsu atau dipalsukan. Apabila hal tersebut terjadi kepada seseorang atau orang biasa maka sudah dapat diduga hasilnya, yaitu caleg tersebut gagal mengikuti putaran pertandingan di pesta demokrasi 2009, dan hanya sebatas itu. Tetapi kalau hal tersebut terjadi pada Ketua Umum Partai, yaitu PNI Marhaenisme, yang juga salah satu Putri Proklamator maka hal ini menjadi polemic yang rentan terhadap politisasi masalah.
     Oleh sebab itu kami mau melakukan klarifikasi masalah tersebut, agar masyarakat atau rakyat Indonesia mengerti apa sebenarnya hal yang dialami oleh Ketua Umum Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Sukmawati Sukarno. Untuk memahami komplek permasalahan marilah kita kembali pada masa ketika Putri sang Proklamator tersebut masih usia remaja.
    Pada tahun 1967, Prutri Sang Proklamator yang diberi nama Dyah Mutiara Sukmawati Soekarno adalah seorang remaja berusia 15 tahun. Saat itu angin politik di Indonesia sangat tidak berfihak kepada pemimpin Revolosi, sang Proklamator sekaligus Presiden Republik Indonesia Pertama. Tekanan represif yang dilakukan oleh tentara kepada hal-hal yang berbau Sukarno sangatlah keras, perlakuan buruk ini tidak hanya diberlakukan kepada pengikutnya, tetapi juga terhadap Putra Putri Sukarno. Ada komando yang tidak tertulis dari pemimpin Orde Baru, yaitu Suharto untuk melakukan pembunuhan sosial secara genoside terhadap anak anak Soekarno dengan melarang anak sang Proklamator untuk bersekolah. Meneror sekolahan dimana Putra Putri Bung Karno bersekolah, atau mengancam kepala sekolah dimana Putra Putri Bungkarno belajar.
     Saat itu perguruan Cikini menolak, kasarnya mengusir DM Sukmawati serta kakaknya untuk melanjutkan sekolah pada perguruan tersebut, melihat hal demikian sang kakak Megawati mencarikan sekolahan yang mau menerima adiknya untuk dapat belajar, maka didapat salah satu sekolah Negeri yang berani menerima Putri sang Proklamator. Sekolah tersebut.adalah SMA N 3, ini juga di sebabkan karena saat itu Kepala Sekolah di jabat oleh Bapak Alfon yang Soekarnois. Maka mulailah Putri sang Proklamator tersebut bersekolah, di sekolahan tersebut dengan segala dinamikanya dibawah tekanan kondisi politik Rezim Orde baru yang represif , dan menginginkan agar anak Soekarno tidak sekolah. Walaupun kondisinya dibawah tekanan politik yang sangat represif akhirnya berhasil mendapatkan ijazah dari sekolahan tersebut.
    Duapuluh delapan tahun sudah berlalu, perjalanan perpolitikan Indonesia mengalami perobahan yang revolosioner, hal tersebut diawali adanya gerakan reformasi yang dimotori oleh para Mahasiswa, juga termasuk DM Sukmawati Sukarno ikut andil dalam menggerakkan reformasi. Sayangnya reformasi yang dilakukan para mahasiswa tersebut tidak di tindak lanjuti oleh para politikus senior dengan baik, sehingga penderitaan yang di alami para korban politik masih menyisakan persoalan hingga saat ini, salah satu hal adalah tidak ada rehabilitasi para korban Rezim Suharto atas kesalahan yang dilakukan secara sistemik atau kasuistis terhadap para korban.
    Kami tidak ingin bicara asli atau palsu sebuah ijazah, tetapi yang akan kita pertanyakan adalah dimana hati nuraini bangsa ini, dimana kecerdasan bangsa ini, dimana kebijakan Negara ini yang secara populasi penduduk dapat dikatakan Negara besar. Kita berkutet mempersoalkan kesalahan administrasi, sementara yang melakukan kesalahan tersebut adalah rezim. Sukmawati, putri sang Proklamator bukan minta konsesi tambang emas di Papua, Sukmawati, putri sang Proklamator bukan meminta kosesi tambang minyak di Riau, Sukmawati, putri sang Proklamator bukan meminta HPH hutan lindung, Sukmawati, putri sang Proklamator bukan meminta keringanan atas kredit macet yang dipinjam dari Bank, Sukmawati ,putri sang Proklamator bukan minta keringanan hukuman karena Korupsi, Sukmawati, putri sang Proklamator hanya mau menyuarakan suara rakyat lewat pemilihan Legislatif, serta ingin melanjutkan cita cita dan ajaran sang Bapak, Marhaenisme.
    Seharusnya kita sebagai bangsa besar malu, tidak dapat menjaga Sukmawati putri sang Proklamator dari kesulitan administrasi yang dilakukan bukan oleh dirinya. Siapa yang harus bertanggungjawab atas kesalahan sistemik yang dilakukan rezim masa lalu, apakah Dikti tidak dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan arif, atau Presiden yang berkuasa saat ini tidak dapat melakukan tindakan yang bijak atau semua pejabat yang menikmati jabatan mereka tidak dapat memberi sedikit pencerahan, karena perlu diingat tanpa kemerdekaan yang di proklamirkan oleh Bung Karno belum tentu ada Presiden RI ke 6, oleh sebab itu biarlah Rakyat yang menilai bagaimana sikap mikul duwur mendem jero tersebut, yang dapat dilakukan oleh penguasa negri ini.

* Penulis Ketua Organisasi DPP PNI Marhaenisme



Sabtu, 25 Oktober 2008



SUKMAWATI SUKARNO
Deklarasi Dukung Barack Obama
     SUKMAWATI Sukarno deklarasikan dukung kandidat Presiden AS, Barack Obama. Hal itu diungkapkannya dalam acara seminar untuk memperingati hari Sumpah Pemuda di Gedung Caraka Loka Departemen Luar Ngeri Jl. Sisingamangaraja No. 73, Jakarta Selatan, Rabu siang. (22/10)
    Dalam acara seminar dengan tema: Dengan semangat Sumpah Pemuda Kita Tingkatkan Penan Pemuda dan Hubungan internasional dalam membangun Indonesia lebih baik. Dengan pembicara antara lain DM Sukmawati Sukarno makala yang disampaikan Pernan PNI Marhaenisme dalam hubungan internasional guna menwujudkan kondisi politik yang kondusif.
Makala lainnya disampaikan oleh pakar Sejarah UI Dr. Angar Gongong dengan makala Peranan Pemuda dalam membangun Indonesia lebih baik dan Drs. Paiman Raharjo, MM, MSi menyampaikan makala Pernana Partai politik dalam sosialisasi dan pemberdayaan partisiapasi politik masyarakat.
    Acara dimulai pukul 07.00 Wib dan berakhir pukul 13.30 WIB dan dihadiri seluruh fungsionaris DPP PNI Marhaenisme, Caleg DKI dan para undanga serta ratusan mahasiswa Se-Jakarta.
     “Saya secara tegas mendukung Senator Illinois Amerika Serikat, Barack Obama dari Partai Demokrat untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Saya mendukung Obma bukan tak ada alasan. Bila terpilih Obma akan berjanji menarik tentara dari Irak dan negara-negara Arab,”terang ibunda artis Paundra.
     Secara tegas Ketua Umum DPP PNI Marhaenisme mendukung Senator Illinois Amerika Serikat, Barack Obama menjadi Presiden AS karena PNI Marhaenisme dan Partai Demokrat Amerika Serikat sama-sama mencintai human rights.
    “PNI Marhanisme dan Partai Demokrat Amerika Serikat sama mendukung human rights. Selain itu Obama merupakan kendidat Presiden AS pertama yang berkulit berwarna.,” terang Putri ketiga Bung Karno ini berapi-api. (****)

Teks: DM Sukmawati Sukarno




Senin, 13 Oktober 2008

Artis Berjubel di partai besar
PNI Marhaenisme tolak Caleg Artis

  JAKARTA - Lebih dari 50 artis menjadi Calon Legislatif (Caleg) dicalonkan Parpol besar yang diumumkan Komisi Pemiluhan Umum (KPU). Melihat kenyatan PNI Marhaenisme tidak gentar. Sebab Caleg PNI diutamakan adalah kader atau amsyarakat yang ingin berjuang membela rakyat bersama PNI Marhaenisnme.
“PNI Marhaenisme punya konsep tentang pencaolnan Caleg. PNI tidak berselera untuk menjadikan artis sebagai Caleg. Masih banyak kader PNI yang bisa jadi Caleg. Buat manfaatnya Caleg artis? Kalau artis itu kader PNI itu tak masalah,” Kata Pemenangan Pemilu (PAPPU) DPP PNI Marhaenisme Drs. Yan Melani Ali  Asli menjelaskan.
   Para artis itu diantaranya Thessa Kaunang, Ricky Jo, Tamara Geraldine, Ronny Pangemanan (komentator bola di TV), Jeremy Thomas, Tantowi Yahya, Nurul Arifin,   Venna Melinda, Tere, Angelina Sondakh, Adjie Massaid, Miing Bagito, Rieke Dyah Pitaloka, Eddo Kondologit, Sonny Tulung, Wulan Guritno,  Marini Zumarnis,  Eko Patrio,  Ikang Fawzi,  Eka Sapta,  Lucky Artadipraja,  Intan Sevilla,  Poppy Maretha,  Irene Librawati,  Derry Drajat,  Adrian Maulana,  Raslina Rasyidin,  Tito Soemarsono,  Maylaffayza,  Mandra,   Mara Karma,  Cahyono,  Krishna Mukti, Henidar Amroe, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati, Feryy Irawan, Evi Tamala, Mieke Wijaya, Emilia Contessa, Marissa Haque, Kristina, Gusti Randa, Anwar Fuadi, Elsa Syarif (pengacara kondang) dan Mutiara Sani.
   Ketua Panitia Pemenangan Pemilu PNI Marhaenisme Drs. Yan Melani Ali Asli tak kecewa partainya tak ada artis. Menurutnya, artis itu tak punya nilai juang. “Perjuangan itu kristalisasi keringat. Apakah artis mau berkeringat di partai? Belum tentu juga mereka mau berkeringat untuk rakyat jika jadi anggota dewan,” cetusnya.
  Bahkan Drs. Yan Melani Ali Asli meragukan loyalitas para artis bila duduk di legislatif. Pridoe Pemilu 2004-2009 ada beberapa artis yang duduk di legislatif telah membuktikan. Para artis itu “tak berbunyi” selama di DPR. Bukan urusan negara atau rakyat yang membuat mereka besar, melainkan karena gosip dan beritanya pun di infotainmen.
  “Simak saja, apakah ada artis yang bersuara lantang membela rakyat? Sangat jarang sekali mereka bicara soal rakyat. Kalaupun ada pemberitaan tentang artis di legislatif, beritanya ditayangan di infotainmen. Itu alasannya, mengapa PNI Marhaenisme kurang begitu berminat menjadi artis sebagai Caleg,” papar Yan Melani Ali Asli. (amrs)